Penamaan beberapa spesies ulat grayak didasarkan atas kebiasaan munculnya dalam jumlah besar. Telor akan cepat menetas pada waktu terjadinya hujan panas (lembab). Pada saat persediaan makanan habis, mereka pindah untuk mencari pertanaman baru lainnya. Ulat grayak dapat hidup pada berbagai spesies rumpt-rumputan. kerusakan terjadi akibat larva makan daun tanaman. ulat makan mulai dari tepi daun, hanya meninggalkan tulang daun dan batang.M.Separata juga dapat memotong malai pada pangkalnya dan dikenal sebagai ulat pemotong leher malai. Cara penanganan pada persemaian :
1. Pada persemaian basah yi. menggunakan puradan 3G / Darmabest, dan bisa juga pada waktu persemaian ditutup dengan daun sehingga ulat akan naik ke penutup dan dimusnakan.
2. Pada persemaian kering yi. benih dicabut / disungkal kemudian direndam sehingga ulat akan mengapung dan diambil untuk dimusnahkan.
Cara penanganan per tahap status : 1. Instar 1 -3 (bentuk seperti rambut) : bisa disemprot dengan puradan 3G / darmabest / SLNPV keseluruh bagian tanaman pada waktu sore hari . 2. Instar 4 -5 (bentuk sudah besar) : biasanya ulat sudah bisa masuk kedalam lubang tanah sehingga efektif disemprot pada malam hari, melepaskan itik disawah, mengambil manual dengan tangan dan langsung dimusnahkan, atau supaya kupu-kupunya tidak bisa kawin lagi/mandul bisa menggunakan hormon yang dipasang pada tiang2 diluar sawah (kurang lebih 10 m dari sawah).
Catatan : * Dosis penggunaan puradan 3G : 17 kg/ha atau 0,5 kg/borong. * Dosis penggunaan SLNPV : 2-3 gram / liter dan volumenya 400 Lt / ha. * Penanganan yang paling efektif adalah dilakukan penanganan secara serentak / berkelompok pada 1 hamparan sawah yang terserang ulat grayak.
Pembangunan ekonomi pada sektor pertanian menghendaki adanya tindakan penyesuaian dengan melakukan perubahan orientasi dari peningkatan produksi kearah peningkatan nilai tambah. Meskipun ada perubahan orientasi dan wawasan, tetapi tujuan pembangunan pertanian tetap konsisten kepada perwujudan amanat pembangunan nasional yaitu meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani-peternak, memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha serta memenuhi permintaan pasar melalui kinerja pertanian yang maju, efisien dan tangguh. Dalam rangka pencapaian tujuan tersebut secara sadar dapat dilakukan upaya penciptaan iklim kondusif bagi berkembangnya sistem agribisnis dan agroindustri yang dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing hasil pertanian.
Wilayah Kab. Hulu Sungai Utara yang memiliki karakterisik lahan yang kebanyakan rawa, menjadikan suatu wilayah yang memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan daerah lainnya di Propinsi Kalimantan Selatan. Tentunya memiliki potensi yang banyak jika dikelola dengan baik. Salah satunya adalah potensi dibidang pertanian yang meliputi usaha tani, ternak, dan lainnya.
Berawal dari inovasi peternak di desa murung panggang kec. Amuntai selatan. Mereka dengan keinginan menambah penghasilan yang lebih baik, Ayam Murung panggang atau orang desa menyebutnya “Ayam Padang” menjadi salah satu produk unggulan yang di kembangkan masyarakat setempat.
Ayam Padang terlahir kira-kira tahun 1997 (kata masyarakat setempat), Jenis ini merupakan persilangan secara alami ayam kampung dengan ayam ras. Cara nya pun harus dengan perlakuan khusus terhadap pasangannya.
Dalam proses penetasan, mereka sudah menggunakan teknologi alat penetasan yang bisa memproduksi bibit secara masal karena telur tetas nya dapat diproduksi dalam jumlah besar. Proses ini biasa dilakukan selama 21 hari (3 minggu).
Pada waktu pembesaran (kira-kira 2 bln) ayam padang bisa memiliki bobot badan 0,7 – 1 kg dengan harga jual Rp.2.300/ons. Kemudian untuk pembibitan biasanya dipelihara selama 4,5 bulan – 1 tahun (ini adalah waktu ayam padang untuk bertelor maksimal) sudah memiliki bobot badan 1 - 2 kg dengan harga jual Rp.60.000,-/kg. Sedangakan untuk ayam padang yang sudah afkir atau sudah berumur lebih dari 1 tahun bisa memiliki bobot 3 – 4 kg.
PENETASAN ITIK ALABIO 1. Telor dimasukkan kedalam mesin tetas dengan suhu +- 30 Derajat Cersius
2. Setelah +- 30 hari didalam mesin tetas, kemudian telur akan menetas 3. Kemudian Itik yang sudah menetas dipisahkan antara jantan & betina 4. Setelah dipisah biasanya itik jantan langsung dijual sedangkan itik betina dipelihara +- 1 minggu baru dijual
Nama ubi alabio mungkin hanya dikenal di Kalimantan Selatan. Masyarakat awam lebih mengenalnya dengan sebutan ubi kelapa (Dioscorea alata L) Tanaman rawa berbentuk perdu merambat dengan panjang mencapai 3 - 10 m. Umbinya bulat, panjang dan ada yang bercabang atau menjari. Daging umbi berwarna merah/ungu atau putih. Jika direbus umbi yang berwarna merah mengeluarkan aroma harum, sedang yang putih tidak.
Budidaya Ubi Alabio Ubi alabio dibudidayakan di lahan lebak dengan pola monokultur atau tumpang sari dengan tanaman padi, jagung, cabe dan terong. Ubi alabio tidak tahan terendam air dan menghendaki kondisi tanah gembur. Penanaman dilakukan di guludan/surjan pada saat air menjelang surut di musim kemarau. Bibit ubi alabio dalam bentuk ubi yang dipotong-potong dari semua bagian yaitu pangkal, tengah dan ujung. Makin besar potongan maka makin besar pula hasil ubi. Bibit disemai pada persemaian dan jika telah muncul tunas baru ditanam di lahan. Penanaman dilakukan pada bulan Mei - Juli dan panen pada bulan Oktober - Desember. Ubi dipanen bila daun dan batang mulai mengering. Budidaya selama ini masih bersifat tradisional dengan hasil masih tergolong rendah yaitu 12 - 28 ton/ha. Potensinya dapat dicapai menjadi 40 - 50 ton/ha jika dilakukan budidaya dengan menerapkan teknologi usahatani yang tepat yaitu menggunakan pemupukan, pengendalian hama dan penyakit serta penggunaan varietas terpilih.
Teknologi Budidaya Bibit ubi alabio disemai pada tempat persemaian, setelah tumbuh tunas ubi dapat ditanam ke lapangan yang telah dipersiapkan berupa pembersihan dari gulma, penggemburan tanah dan pembuatan lubang tanam. Setelah tanaman cukup tinggi dibuatkan tiang penyangga untuk media perambatan, satu tiang cukup untuk 4 - 6 tanaman. Cara merambatkannya dengan melilitkan tanaman berlawanan arah putaran jarum jam, jika salah melilitkan maka tanaman tidak bisa merambat. Sebagai sumber hara, diperlukan pupuk 90 kg N/ha, 60 kg P2O5/ha dan 60 kg K2O/ha. Pemupukan pertama diberikan setengah dosis N dan seluruh dosis P dan K yang diberikan pada saat tanaman berumur tujuh hari atau saat tanaman mulai melilit dan sisa pupuk N diberikan pada saat tanaman berumur 42 hari. Pupuk diberikan dengan cara ditugal di sekitar tiang rambat. Pengendalian gulma pada pertanaman dan pembumbunan dilakukan secara manual pada saat ubi berumur 21 dan 42 hari. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan pada awal pertumbuhan dengan menyemprotkan insektisida Sevin dan memberikan Furadan sesuai dosis anjuran. Penyemprotan dapat dilakukan kembali jika ada serangan hama atau penyakit lainnya. Panen dapat dilakukan 4 - 7 bulan setelah tanam yang ditandai dengan daun dan batang yang mulai mengering. * Arifin Fahmi dan S.S. Antarlina (Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa /BALITTRA)