Thursday, April 23, 2009
Wednesday, February 25, 2009
Penetasan Itik Alabio
PENETASAN ITIK ALABIO
1. Telor dimasukkan kedalam mesin tetas dengan suhu +- 30 Derajat Cersius
1. Telor dimasukkan kedalam mesin tetas dengan suhu +- 30 Derajat Cersius
Monday, February 02, 2009
Ubi Alabio
Nama ubi alabio mungkin hanya dikenal di Kalimantan Selatan. Masyarakat awam lebih mengenalnya dengan sebutan ubi kelapa (Dioscorea alata L) Tanaman rawa berbentuk perdu merambat dengan panjang mencapai 3 - 10 m. Umbinya bulat, panjang dan ada yang bercabang atau menjari. Daging umbi berwarna merah/ungu atau putih. Jika direbus umbi yang berwarna merah mengeluarkan aroma harum, sedang yang putih tidak.
Budidaya Ubi Alabio
Ubi alabio dibudidayakan di lahan lebak dengan pola monokultur atau tumpang sari dengan tanaman padi, jagung, cabe dan terong. Ubi alabio tidak tahan terendam air dan menghendaki kondisi tanah gembur. Penanaman dilakukan di guludan/surjan pada saat air
menjelang surut di musim kemarau. Bibit ubi alabio dalam bentuk ubi yang dipotong-potong dari semua bagian yaitu pangkal, tengah dan ujung. Makin besar potongan maka makin besar pula hasil ubi. Bibit disemai pada persemaian dan jika telah muncul tunas baru ditanam di lahan. Penanaman dilakukan pada bulan Mei - Juli dan panen pada bulan Oktober - Desember. Ubi dipanen bila daun dan batang mulai mengering. Budidaya selama ini masih bersifat tradisional dengan hasil masih tergolong rendah yaitu 12 - 28 ton/ha. Potensinya dapat dicapai menjadi 40 - 50 ton/ha jika dilakukan budidaya dengan menerapkan teknologi usahatani yang tepat yaitu menggunakan pemupukan, pengendalian hama dan penyakit serta penggunaan varietas terpilih.
Teknologi Budidaya
Bibit ubi alabio disemai pada tempat persemaian, setelah tumbuh tunas ubi dapat ditanam ke lapangan yang telah dipersiapkan berupa pembersihan dari gulma, penggemburan tanah dan pembuatan lubang tanam. Setelah tanaman cukup tinggi dibuatkan tiang penyangga untuk media perambatan, satu tiang cukup untuk 4 - 6 tanaman. Cara merambatkannya dengan melilitkan tanaman berlawanan arah putaran jarum jam, jika salah melilitkan maka tanaman tidak bisa merambat. Sebagai sumber hara, diperlukan pupuk 90 kg N/ha, 60 kg P2O5/ha dan 60 kg K2O/ha. Pemupukan pertama diberikan setengah dosis N dan seluruh dosis P dan K yang diberikan pada saat tanaman berumur tujuh hari atau saat tanaman mulai melilit dan sisa pupuk N diberikan pada saat tanaman berumur 42 hari. Pupuk diberikan dengan cara ditugal di sekitar tiang rambat. Pengendalian gulma pada pertanaman dan pembumbunan dilakukan secara manual pada saat ubi berumur 21 dan 42 hari. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan pada awal pertumbuhan dengan menyemprotkan insektisida Sevin dan memberikan Furadan sesuai dosis anjuran. Penyemprotan dapat dilakukan kembali jika ada serangan hama atau penyakit lainnya. Panen dapat dilakukan 4 - 7 bulan setelah tanam yang ditandai dengan
daun dan batang yang mulai mengering.
* Arifin Fahmi dan S.S. Antarlina (Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa /BALITTRA)
Budidaya Ubi Alabio
Ubi alabio dibudidayakan di lahan lebak dengan pola monokultur atau tumpang sari dengan tanaman padi, jagung, cabe dan terong. Ubi alabio tidak tahan terendam air dan menghendaki kondisi tanah gembur. Penanaman dilakukan di guludan/surjan pada saat air
menjelang surut di musim kemarau. Bibit ubi alabio dalam bentuk ubi yang dipotong-potong dari semua bagian yaitu pangkal, tengah dan ujung. Makin besar potongan maka makin besar pula hasil ubi. Bibit disemai pada persemaian dan jika telah muncul tunas baru ditanam di lahan. Penanaman dilakukan pada bulan Mei - Juli dan panen pada bulan Oktober - Desember. Ubi dipanen bila daun dan batang mulai mengering. Budidaya selama ini masih bersifat tradisional dengan hasil masih tergolong rendah yaitu 12 - 28 ton/ha. Potensinya dapat dicapai menjadi 40 - 50 ton/ha jika dilakukan budidaya dengan menerapkan teknologi usahatani yang tepat yaitu menggunakan pemupukan, pengendalian hama dan penyakit serta penggunaan varietas terpilih.
Teknologi Budidaya
Bibit ubi alabio disemai pada tempat persemaian, setelah tumbuh tunas ubi dapat ditanam ke lapangan yang telah dipersiapkan berupa pembersihan dari gulma, penggemburan tanah dan pembuatan lubang tanam. Setelah tanaman cukup tinggi dibuatkan tiang penyangga untuk media perambatan, satu tiang cukup untuk 4 - 6 tanaman. Cara merambatkannya dengan melilitkan tanaman berlawanan arah putaran jarum jam, jika salah melilitkan maka tanaman tidak bisa merambat. Sebagai sumber hara, diperlukan pupuk 90 kg N/ha, 60 kg P2O5/ha dan 60 kg K2O/ha. Pemupukan pertama diberikan setengah dosis N dan seluruh dosis P dan K yang diberikan pada saat tanaman berumur tujuh hari atau saat tanaman mulai melilit dan sisa pupuk N diberikan pada saat tanaman berumur 42 hari. Pupuk diberikan dengan cara ditugal di sekitar tiang rambat. Pengendalian gulma pada pertanaman dan pembumbunan dilakukan secara manual pada saat ubi berumur 21 dan 42 hari. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan pada awal pertumbuhan dengan menyemprotkan insektisida Sevin dan memberikan Furadan sesuai dosis anjuran. Penyemprotan dapat dilakukan kembali jika ada serangan hama atau penyakit lainnya. Panen dapat dilakukan 4 - 7 bulan setelah tanam yang ditandai dengan
daun dan batang yang mulai mengering.
* Arifin Fahmi dan S.S. Antarlina (Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa /BALITTRA)
Saturday, October 25, 2008
Optimalisasi Lahan Lebak
Pengelolaan air pada lahan lebak dangkal dan tengahan dapat dikembangkan melalui pembuatan saluran air di dalam petakan lahan. Saluran ini sekaligus berfungsi sebagai tempat penampungan ikan alam atau tempat pemeliharaan ikan, serta sebagai penampung air untuk keperluan tanaman pada musim kemarau. Sampai saat ini petani telah mengusahakan lahan ini dengan berbagai tanaman, mulai dari tanaman semusim khususnya tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman industri, maupun dikombinasikan dengan komoditas perikanan atau peternakan.
Masalah utama pengembangan lahan lebak untuk pertanian adalah kondisi hidro-topografi serta rejim air yang beragam, banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau, drainase lamban dan kemasaman tanah.
Teknik penataan dan pengelolaan lahan serta pola tanam yang tepat, sesuai dengan karakteristik lahan diwilayah tersebut sangat diperlukan untuk mengatasi kondisi hidro-topografi serta rejim air yang beragam. Pengelolaan air pada lahan lebak dangkal dan tengahan dapat dikembangkan melalui pembuatan saluran air di dalam petakan lahan. Saluran ini sekaligus berfungsi sebagai tempat penampungan ikan alam atau tempat pemeliharaan ikan, serta sebagai penampung air untuk keperluan tanaman pada musim kemarau. Sampai saat ini petani telah mengusahakan lahan ini dengan berbagai tanaman, mulai dari tanaman semusim khususnya tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman industri,maupun dikombinasikan dengan komoditas perikanan atau peternakan.
Alternatif pola tanam yang dapat dilakukan :
1. Pada musim hujan (MH) I adalah padi surung pada tabukan (sawah).
2. Pada MH II yang merupakan mendekati akhir musim hujan ditanam sayuran (tomat atau cabai) pada guludan.
3. Sedangkan pada musim kemarau (MK) I yang merupakan awal musim kemarau ditanam palawija atau padi rintak dan juga sayuran pada guludan.
4. Pada MK II yang menjelang akhir musim kemarau ditanam palawija, terutama yang toleran kekeringan seperti kacang hijau atau jagung.
5. Sedangkan tanaman tahunan seperti jeruk tidak terpengaruh dengan musim.
Dalam penentuan pola tanam ini, padi merupakan komoditas utama, sedangkan komoditi penunjang adalah palawija (jagung, kacang hijau, kedelai), sayuran (tomat dan cabai), dan buahbuahan (jeruk).
Dasar pemilihan padi sebagai komoditas utama antara lain adalah dengan teknik budidaya dan penggunaan varietas yang sesuai, padi dapat tumbuh optimal.
Dan kunci keberhasilan pengembangan lahan ini terletak pada: pertama, pemilihan kelompok tani yang kooperatif dan visioner; kedua, penyediaan saprodi tepat waktu, jumlah dan kualitas, termasuk di dalamnya modal, tenaga (manusia atau alsintan), bibit, pupuk, herbisida dan pestisida; dan ketiga, dukungan pemasaran hasil produksi khususnya menjamin kesetabilan harga di tingkat petani (farm gate price).
(Balitra & BPTP)
Masalah utama pengembangan lahan lebak untuk pertanian adalah kondisi hidro-topografi serta rejim air yang beragam, banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau, drainase lamban dan kemasaman tanah.
Teknik penataan dan pengelolaan lahan serta pola tanam yang tepat, sesuai dengan karakteristik lahan diwilayah tersebut sangat diperlukan untuk mengatasi kondisi hidro-topografi serta rejim air yang beragam. Pengelolaan air pada lahan lebak dangkal dan tengahan dapat dikembangkan melalui pembuatan saluran air di dalam petakan lahan. Saluran ini sekaligus berfungsi sebagai tempat penampungan ikan alam atau tempat pemeliharaan ikan, serta sebagai penampung air untuk keperluan tanaman pada musim kemarau. Sampai saat ini petani telah mengusahakan lahan ini dengan berbagai tanaman, mulai dari tanaman semusim khususnya tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman industri,maupun dikombinasikan dengan komoditas perikanan atau peternakan.
Alternatif pola tanam yang dapat dilakukan :
1. Pada musim hujan (MH) I adalah padi surung pada tabukan (sawah).
2. Pada MH II yang merupakan mendekati akhir musim hujan ditanam sayuran (tomat atau cabai) pada guludan.
3. Sedangkan pada musim kemarau (MK) I yang merupakan awal musim kemarau ditanam palawija atau padi rintak dan juga sayuran pada guludan.
4. Pada MK II yang menjelang akhir musim kemarau ditanam palawija, terutama yang toleran kekeringan seperti kacang hijau atau jagung.
5. Sedangkan tanaman tahunan seperti jeruk tidak terpengaruh dengan musim.
Dalam penentuan pola tanam ini, padi merupakan komoditas utama, sedangkan komoditi penunjang adalah palawija (jagung, kacang hijau, kedelai), sayuran (tomat dan cabai), dan buahbuahan (jeruk).
Dasar pemilihan padi sebagai komoditas utama antara lain adalah dengan teknik budidaya dan penggunaan varietas yang sesuai, padi dapat tumbuh optimal.
Dan kunci keberhasilan pengembangan lahan ini terletak pada: pertama, pemilihan kelompok tani yang kooperatif dan visioner; kedua, penyediaan saprodi tepat waktu, jumlah dan kualitas, termasuk di dalamnya modal, tenaga (manusia atau alsintan), bibit, pupuk, herbisida dan pestisida; dan ketiga, dukungan pemasaran hasil produksi khususnya menjamin kesetabilan harga di tingkat petani (farm gate price).
(Balitra & BPTP)
Monday, October 20, 2008
Potensi & Masalah Ternak Itik
Kabupaten Hulu Sungai Utara dikenal sebagai sentra ternak khususnya ternai itik Alabioyang menjadi produk andalan daerah baik dalam bentuk produksi daging maupun hasil
ternak berupa telor.
Peluang pengembangan usaha ternak itik cukup besar, hal ini disebabkan karena
memiliki potensi antara lain :
1. Bibit
Ketersediaan bibit itik Alabio termasuk mudah karena telah ada spesialisasi usaha yaitu
ada petani yang melakukan pemeliharaan itik pembesaran dan usaha penetasan.
Adanya itik jenis baru yaitu itik MA (Mojosari Alabio) bagi sebagian masyarakat
peternak di Kab. HSU belum mengadopsi. Keunggulan dari jenis itik ini adalah tingkat
efisiensi pakan cukup tinggi namun harga telur dan itik afkir relatif lebih murah berbeda
dengan itik Alabio yang biaya pakan lebih mahal tetapi harga telur dan itik afkir juga
lebih mahal.
2. Pemasaran
Pemasaran bibit dan telur itik cukup baik dan tidak ada masalah, hal ini ditunjukkan
adanya permintaan bibit yang cukup tinggi dari daerah lain seperti Kalimantan Timur
dan Tengah.
3. Keterampilan
Petani mempunyai keterampilan yang baik dalam hal memelihara dan menyeleksi,
keterampilan ini merupakan warisan turun temurun dan pengalaman. Bahkan ada jasa
dalam hal memilih telur, bibit atau menentukan jenis kelamin itik pada umur muda (1-7
hari). Keterampilan ini merupakan potensi yang mendukung dalam peningkatan
produksi itik.
4. Sosial Budaya
Usaha pemeliharaan ternak itik tidak mengalami hambatan atau masalah namun bahkan
diterima di masyarakat, masyarakat tidak malu untuk melakukannya. Oleh karena itu
kegiatan ini dapat berkembang luas.
5. Dukungan Swasta dan Pemerintah
Dukungan terhadap perkembangan ternak itik memerlukan bantuan dana pinjaman untuk
lebih meningkatkan usahanya
Selain potensi di atas, terdapat permasalahan yang dihadapi dalam beternak itik
yaitu mahalnya harga pakan, ketersediaan bahan pakan yang sangat tergantung musim dan
fluktuasi harga produk baik telur, daging maupun bibit dan masalah penyakit (terutama flu
burung). Berdasar potensi dan permasalahan di atas, terdapat beberapa alternatif pemecahan
masalah yang dapat dilakukan:
1. Teknologi pakan, dengan tujuan untuk menurunkan harga pakan tanpa mempengaruhi
produksinya, pemanfaatan pakan lokal yang belum optimal seperti sumber protein
yaitu keong mas, ikan rucah, hijauan misalnya eceng gondok
2. Pengendalian dan pencegahan penyakit terutama penyakit berbahaya dan menular
dengan cara penyuluhan yang intensif dan pengadaan vaksin agar peternak dengan
cepat dan modal untuk membeli
3. Pemantapan kelembagaan akan pentingnya kelembagaan dalam hal pengendalian harga
baik produk itik maupun saprodi itik (pakan, bibit)
4. Penguatan modal usaha, dengan cara meningkatkan jalinan kerjasama baik dengan
pemerintah dan swasta dengan kesepakatan dan perjanjian agar tidak ada yang
dirugikan
(Eni Siti Rohaeni, Yanti Rina. PELUANG DAN POTENSI USAHA TERNAK ITIK DI LAHAN LEBAK. BPTP Kalimantan Selatan, Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra)).
Subscribe to:
Posts (Atom)